Petaka Selepas Demonstrasi (1)

Januari 15, 2010 § 3 Komentar

Ratih, seorang akhwat muda berusia 23 tahun, dengan langkah gontai menembus kerumunan para pendemo yang masih terus mondar-mandir kesana kemari dengan ramai. Sejak tadi malam, kondisi badan Ratih memang sedang kurang fit, namun demi perjuangan menentang penyerangan Israel ke Palestina, ia pun memaksakan diri untuk mengikuti aksi siang ini. Berbeda dengan hari kemarin yang terus menerus dirundung hujan, Kota Jakarta hari ini benar-benar terbasuh dengan terik mentari yang begitu dahsyat. Akibat perubahan cuaca yang begitu ekstrim ini, dapat dipastikan kondisi tubuh Ratih kian bertambah parah. Untuk mengistirahatkan diri, ia pun terduduk sejenak di pinggiran trotoar di sekitar daerah Monas itu. Tas punggung yang hanya berisi barang seadanya itu, ia sampirkan di sampingnya.

Ratih Wulandari

Ratih Wulandari

Ratih Wulandari adalah seorang mahasiswi tingkat akhir Universitas Indonesia Jurusan Ilmu Komunikasi. Bila tak ada kendala berarti, beberapa bulan lagi ia akan mulai mengerjakan skripsinya yang berbicara tentang kemiskinan rakyat ibukota. Ia adalah anak tunggal dari 3 bersaudara. Ayah dan ibunya adalah seorang yang taat beragama, tak heran Ratih dan adik-adiknya sejak kecil telah diberi bekal yang cukup soal agama. Hari ini ia memakai setelan jubah berwarna abu-abu dan rok hitam yang memanjang hingga ke mata kakinya yang terbungkus kaus kaki berwarna krem yang agak transparan. Tak ketinggalan sebuah jilbab putih yang lebar melingkari lehernya yang mungil. Wajahnya bulat, kulitnya kuning langsat, bola matanya hitam tajam. Tampak begitu manis walaupun dengan mimik yang lesu seperti itu. Hidungnya yang sedikit mancung nampak begitu mempesona. Sesaat ia mengeluarkan lidahnya dan menjilati bibir bawahnya, ia tampak kehausan.

Tanpa ia sadari, seorang lelaki bertubuh gempal telah mengawasinya sejak awal aksi tadi. Lenggak-lenggok tubuh Ratih di balik balutan busana muslimahnya telah mampu membuat darah muda lelaki berusia 50 tahunan itu menggelegak. Pak Usman namanya. Ia bukanlah seorang anggota PKS seperti Ratih dan kawan-kawan peserta demo lainnya. Ia hanya seorang pengangguran yang sering ikut-ikutan demo seperti itu hanya untuk mendapatkan segelas aqua dan sepaket nasi bungkus. Namun kali ini, kemolekan body akhwat Partai Keadilan Sejahtera yang memang aduhai ini, ditambah dengan wajahnya yang mempesona, membuat rasa haus dan lapar Pak Usman hilang seketika. Berkali-kali ia meneguk liurnya sendiri memandang Ratih dari belakang. Perlahan ia mendekati Ratih dan menyapanya, „Kenapa Neng, tampangnya pucat begitu? Mau diambilkan air?“

„Eemmm, tak usah Pak. Nanti biar saya cari minum sendiri“ jawab Ratih sekenanya.

“Nggak apa-apa Neng, sebentar ya” Secepat kilat Pak Usman si pria tua itu telah kembali dari tempat pembagian air minum. Ia membawa dua botol Aqua sekaligus, satu untuk dirinya dan satu untuk Ratih, yang telah menggoda imannya.

“Terima kasih banyak ya pak” Tanpa persetujuan Ratih terlebih dahulu, Pak Usman langsung duduk tepat di samping akhwat cantik tersebut. Ratih pun menjadi sedikit risih dibuatnya. Ia sedikit menggeser pantatnya ke arah berlawanan. Karena merasa tidak enak sudah diambilkan minum, ia pun membiarkan lelaki yang bukan mahromnya itu duduk bersebelahan dengannya walaupun tetap dengan menjaga jarak. Karena ia telah demikian haus, ia pun menenggak air minum itu hingga setengah botol. Entah mengapa mendadak kepala Ratih menjadi pusing. Matanya berkunang-kunang, pandangannya kabur dan tenaganya melemah.

Terdengar cekikikan dari mulut Pak Usman. Ternyata tua bangka itu telah mencampurkan sesuatu di minuman Ratih sebelum ia menyantapnya. Dengan santainya ia mengalungkan tangannya ke leher Ratih dan menarik tubuh molek si akhwat muslimah yang alim itu ke dalam pelukannya. Orang-orang masih sibuk lalu-lalang meneriakkan kecaman terhadap Israel. Walaupun ada orang melihat Pak Usman yang memeluk Ratih, mereka hanya menyangka kalau mereka adalah sepasang suami istri, walaupun umur keduanya terpaut begitu jauh, namun hal itu memang dianggap biasa di kalangan aktivis. Apalagi wajah Ratih yang demikian lemah membuat para aktivis lain tak berani mengganggu pasangan itu.

Ratih merasa geli merasakan usapan-usapan tangan kasar Pak Usman di pipinya. Ia benar-benar tidak bisa berbuat apa-apa. Tubuhnya terasa lemah dan kaku. Ia merasa bingung akan apa yang terjadi padanya. Setelah minum air mineral tadi, kesadarannya terasa tertahan. Ia tidak bebas menggerakkan anggota badannya padahal ia masih dapat melihat dan merasakan segala sesuatu di sekelilingnya. Keringat semakin deras membasahi jilbabnya yang terbuat dari bahan satin. Hampir-hampir akhwat nan molek itu basah kuyup oleh keringatnya sendiri.

Melihat hewan buruannya telah begitu jinak di pelukannya, Pak Usman malah makin bernafsu. Kemaluan yang sudah bertahun-tahun tidak dipakai itu kini berontak dengan dahsyat dari balik celana panjangnya. Bau keringat Ratih yang semakin menyengat membuat gelegak birahi Pak Usman makin meletup-letup. Ia membayangkan dirinya menyetubuhi muslimah aktivis nan alim dan santun itu dengan liar hingga Ratih bergetar hebat dibuatnya. Ia dekap tubuh indah itu lebih erat dan diciuminya bau keringat Akhwat yang merangsang itu. Ditempelkannya hidungnya di pipi Ratih dan sesekali Pak Usman mengeluarkan lidahnya dan menjilati wajah Ratih. Ratih pun hanya bisa meringis dan menikmati perlakuan Pak Usman pada dirinya.

“Akkhhh …” terdengar sedikit lenguhan Ratih begitu pelan namun telah cukup membuat denyut nadi Pak Usman berdenyut-denyut. Akhwat yang kini makin basah bermandikan keringat itu, campuran dari keringat bekas demonstrasi dan keringat dingin akibat dijamah oleh Pak Usman, itu terlihat begitu gelisah. Tubuhnya yang basah menjadi makin menggiurkan bagi pria setengah baya yang tengah meraba-raba tubuhnya. Kegiatan mereka makin mendapat perhatian dari orang-orang di sekitarnya. Pak Usman sedikit khawatir dengan hal itu, ia pun memikirkan jalan agar bisa menikmati tubuh Ratih dengan lebih leluasa.

Akhwat Demonstran

Akhwat Demonstran

Pak Usman pun memutuskan untuk membawa Ratih ke sebuah tempat sepi, mumpung akhwat PKS nan menawan itu masih dalam pengaruh bayang-bayang campuran obat bius dan obat perangsang yang tadi diberikannya. Dengan cepat ia melepas pelukannya pada Ratih dan bergegas mengambil motor bebeknya yang diparkir tak jauh dari situ. Ia pun membimbing Ratih untuk berdiri dari trotoar dan mengajaknya untuk naik motor bersamanya. Dengan lembut Pak Usman membisikkan sesuatu di telinga Ratih, “Sayang, bila kau ingin merasakan kenikmatan yang jauh lebih indah dari ini, ikutilah kata-kataku. Sekarang naiklah ke motor ini dengan membonceng padaku”

Layaknya seorang kerbau yang dicocok hidungnya, Ratih pun menuruti semua yang diperintahkan Pak Usman. Ia merasakan adanya dorongan yang begitu dalam dari dirinya untuk merasakan kembali sentuhan dan belaian seorang Pak Usman. Ia merasakannya seperti gairah. Mungkin ini adalah efek dari obat perangsang yang diberikan oleh Pak Usman tadi. Ratih yang tadinya merupakan seorang akhwat yang anggun, menawan, shalihah, alim, dan santun kini telah tergila-gila dengan perbuatan cabul Pak Usman. Setelah Pak Usman naik motor pun, Ratih dengan pasrah menurutinya dan duduk menyamping sambil memeluk pinggang Pak Usman dengan erat.

Merasakan hal tersebut, Pak Usman begitu girang. Selama perjalanan ia hanya memakai tangan kanan untuk menarik gas dan mengerem, sementara tangan kirinya terus mengelus-elus tangan perawan suci nan alim yang melingkari pinggangnya. Ratih telah begitu jauh terperosok ke dalam jebakan yang dibuat Pak Usman. Mereka berdua begitu dilanda birahi yang menggebu-gebu di atas motor tua itu. Mereka sudah sama-sama tidak sadar untuk melampiaskan nafsunya masing-masing. Tanpa sadar tangan Ratih pun dengan lembut mengelus-elus bagian perut Pak Usman membuat pria setengah baya itu belingsatan dibuatnya. Untung rumah kontrakan Pak Usman tidak begitu jauh sehingga 10 menit kemudian mereka telah sampai.

Begitu sampai di dalam rumah, Pak Usman langsung menyiapkan segalanya. Pintu rumah ia kunci, motor ia masukkan, dan Ratih ia baringkan di atas kasur rumah kontrakannya. Kini hidangan lezat telah menantinya di atas ranjang itu dengan gairah yang menggelora.

Pak Usman pun langsung membuka kaos dan celana panjangnya. Tinggal celana dalam saja yang tersisa ia pakai. Ia terlihat begitu sangat bernafsu dengan wanita yang tengah tergolek lemas di hadapannya. Ia pun merangkak di atas wanita itu dan membelai wajahnya yang berbalut jilbab nan lebar yang membuatnya terlihat begitu anggun itu. “Siapa namamu manis?”

“Ratih, Pak” jawab Ratih sambil menggigit bibir bawahnya. Ia juga tampak telah begitu tegang dengan Pak Usman yang telah menanggalkan busananya. Ia sadar semua ini sudah tidak bisa ditolak lagi. Pergolakan batin terus berlomba di dalam hatinya. Ia begitu bingung untuk memilih lari, karena raganya mengatakan sebaliknya. Baru kali ini ia diperlakukan seperti ini, dan baru kali ini seorang pria yang bukan mahromnya menanggalkan busana di hadapannya dan mendekatinya hingga begitu dekat di atas ranjang.

“Nama yang bagus, Sayang. ”

Ratih Wulandari

Ratih Wulandari

“Terima Kasih, Pak” Pak Usman pun menurunkan jari-jemarinya ke bawah menuju bagian buah dada Ratih yang menggunung. Besarnya ia taksir sekitar ukuran 36. Ratih memang mempunyai ukuran payudara yang lebih besar dari teman-teman sesama akhwatnya. Bisa dibilang ialah akhwat terseksi di antara teman-teman aktivisnya. Sebenarnya itu bukan masalah di kalangan aktivis, tapi setelah bertemu orang seperti Pak Usman yang begitu menggilai payudara besar, Ratih sadar bahwa itu adalah bahaya besar.

Perlahan Pak Usman meremas-remas payudara yang masih tertutup jilbab dan jubah Ratih itu dengan nafsu yang begitu menggebu. Ia merasakan puting di payudara Ratih yang sebelah kanan, puting itu telah begitu tegang sehingga nampak menonjol dari balik jilbabnya. “Kamu udah horny yah say?”

Ratih hanya diam saja diperlakukan seperti itu, ia tak mampu menyangkal bahwa ia telah takluk dalam dekapan pria tua yang lebih layak menjadi bapaknya itu. Ia pun tetap diam ketika tangan Pak Usman mampir ke ujung rok panjangnya dan menariknya perlahan ke atas. Tangan yang kasar itu pun dengan lancangnya menjamah betis dan paha mulus Ratih yang belum pernah dilihat sekalipun oleh lelaki lain. Tangan itu bergerak naik turun sehingga membuat Ratih akhirnya mengeluarkan desahan yang begitu menggairahkan, “Aaaahhhh … “

Pak Usman begitu senang mendengarnya. kemaluannya pun semakin keras dan tegang. Ia makin berani mengerjai akhwat nan santun itu dengan menurunkan celana dalam Ratih ke bawah. Ia pun kini mengelus-elus lembut kemaluan yang sudah tidak tertutup apa-apa lagi itu dari balik rok panjang yang masih terpasang. Sedari awal Pak Usman memang tak berniat melepas pakaian Ratih, ia makin terangsang dengan menzinai Ratih dalam keadaan masih lengkap berpakaian muslimah.

Pak Usman pun mendekati wajah sang akhwat nan anggun tersebut. Bibir mereka telah begitu dekat. Ratih pun dapat merasakan bau badan Pak Usman yang begitu tak sedap, tapi entah kenapa Ratih pun ikut mendekatkan bibirnya yang indah itu ke bibir pria yang sama sekali tidak dikenalnya itu. Pak Usman membelai mesra jilbab putih yang dikenakan Ratih dan memagut bibir sang akhwat dengan lembut dan penuh nafsu serta gairah. Pria tua itu pun semakin berani dengan mengeluarkan lidahnya agar dijilat oleh Ratih. Ratih pun tanpa malu menyambutnya dengan gairah yang tidak kalah besarnya. Perzinahan serasa tinggal menunggu waktu bagi mereka berdua.

Sambil memagut bibir indah nan suci itu, tak lupa Pak Usman pun meremas-remas payudara Ratih dari balik jilbab lebarnya. Bergantian dari kanan ke kiri dan sesekali memelintir putingnya. Ratih pun merasakan sensasi yang begitu menakjubkan.

(Bersambung … )

Tagged: , , , , , , , ,

§ 3 Responses to Petaka Selepas Demonstrasi (1)

  • Snicker Flower mengatakan:

    nanggung…
    kenapa ga dijadiin 1 post aja sekalian? biar langsung crot😛

  • Ikhwan pemalu pemau mengatakan:

    istighfar loh.. ngomongnya ko crot crot??
    nah ni yg ane suka dari para akhwat, mereka rajin menutup aurat di depan umum, tpi nafsunya liar… ane paling demen yg kaya gini…
    terusin donk…………
    perbanyak!!

  • miswar mengatakan:

    tunggu dulu yah… ini kenyataan ??

    jangan begitu donk tidak bagus jadinya masa yang begini diceritakan trus mempermalukan orangnya krn itu ada photonya…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Petaka Selepas Demonstrasi (1) at Menyingkap Sensualitas para Muslimah.

meta

%d blogger menyukai ini: